Berita penyaluran
Kepedulianmu kebahagian mereka
KANTOR PUSAT, 09 Januari 2026
Di penghujung 2025 dan awal 2026, publik Indonesia dihadapkan pada satu fenomena, viralnya satu pertunjukan stand-up comedy. Sebuah pertunjukan yang tak sekadar mengundang tawa, tetapi juga mengusik nurani. Realitas kita sebagai warga negara dan kegelisahan kolektif bangsa dibedah dengan cara yang jarang: lucu, cerdas, dan yang terpenting… berani.
Ini bukan keberanian fisik. Ia tidak mengangkat senjata. Ia menjunjung nalar. Mengajak berpikir. Di sinilah bentuk keberanian baru: mengubah mindset. Keberanian untuk menyadari masih banyak yang perlu kita pelajari, keberanian dalam menemukan cara untuk menyampaikannya di ruang publik, dan keberanian dalam melawan godaan untuk diam demi rasa aman yang semu.
Seni, yang sering dianggap ringan, justru menjadi medium serius. Tawa menjadi pintu masuk bagi diskusi yang lebih dalam. Humor menurunkan tensi, tetapi tidak menurunkan substansi. Dan di situlah letak relevansinya: ketika sebagian masyarakat merasa gelisah, tetapi tak tahu harus menyalurkannya ke mana, maka suara seperti ini terasa mewakili.
Indonesia berutang budi pada para pemberani: mereka yang mendirikan republik, memperjuangkan hak, dan menjaga nurani bangsa. Indonesia hari ini juga membutuhkan pemberani jenis baru, mereka yang berani bertanya, berani mengganggu kenyamanan, dan berani berkata, “Ada yang tidak beres, mari kita berpikir.”
Keberanian semacam ini memang tidak selalu rapi. Kadang terasa kontroversial. Seringkali memancing perdebatan panas. Tetapi di situlah tanda masyarakat yang hidup. Kondisi bangsa yang sehat bukanlah yang tanpa konflik, melainkan peranan kepemimpinan visioner yang sanggup mengelola perbedaan dengan rasional. Pemimpin yang terbuka sehingga masyarakatnya tumbuh menjadi individu yang mampu berpikir.
“The New Brave” bukan tentang siapa yang paling lantang, tetapi siapa yang paling jujur pada akal sehatnya. Bukan tentang menyerang, tetapi mengajak. Bukan tentang merasa paling benar, tetapi berani membuka ruang dialog. Maka, di titik ini, keberanian bukan lagi monopoli tokoh besar atau figur publik. Tidak harus menjadi tokoh nasional. Itu semua adalah tanggung jawab kita semua.
Berani menyadari bahwa diri ini masih perlu belajar
Berani berpikir kritis.
Berani bersikap rasional.
Berani mengemukakan pendapat dengan etika.
Berani mendengar mereka yang berbeda.
Karena masa depan Indonesia hanya ditentukan oleh warga yang berani menggunakan pikirannya. Dan mungkin, di situlah bentuk keberanian paling penting hari ini: tidak berhenti peduli dan tidak menyerahkan nalar kita pada kemalasan.
oleh:
Johantara Hafiyan
Direktur Operasional dan Pengembangan LMI
KANTOR PUSAT, 09 January 2026
Di penghujung 2025 dan awal 2026, publik Indonesia...
KABUPATEN BLITAR, 22 December 2025
BLITAR — Salah satu cara paling efektif dalam usah...
KABUPATEN MALANG, 26 December 2025
Malang (26/12) – LMI melaksanakan kegiatan Program...
KABUPATEN MALANG, 19 December 2025
MALANG – Tangan di atas lebih baik daripada tangan...